cukup resapi saja rentetan kataku, sungguh menenggelamkan
selamat datang ketenangan penuh gundah dan penghayatan akan resah
bahwa aku bergantung hati padamu...
suatu wujud mempesonaku berkepanjangan, memupuk janji yang tak tersampaikan
mengenalkan ragam belaian penuh tipu..
sesaki hal yang ragu tak semat mati, meski tak henti dimaki
tercaci risau meski tak sirna, tak sempat pula
dulu tentangmu kukenang, kusimak dan berantakan
cermati harapan yang lumpuh tak pernah pulih
getir terancam kritis, pudar seusai senja, menuntut redup berkepanjangan
sejatinya keihklasan, hanya mengindahkan tawa
walau nurani menusuk diri
tak pernah kupaksakan kau menjadi sebuah imaji
walau semua mimipi sudah kubunuh berkali-kali
sempat kau tawarkan aku pada titik kemungkinan?
memutuskan singgah, telusuri riwayat singkat, menyeret silau...
harapanku semakin minim dalam tirai penyekat, harus kulipat-lipat
lebih kecil dan semakin kecil...
sempat kau tawarkan aku pada titik kemungkinan, akan makna pelarian...
bahwasanya hatiku yang tersekap sepi tapi kerap kali kau tenggok
bahkan sepi tak lagi menyapa...
semoga kerut senyummu tak lagi menipuku, tak memanjakan hati yang lain...
aku dan mentari menghampirimu setiap pagi, menyeret paksa mimpimu yang mati...
seindah mentari berpijar, setulus aku mencintaimu...
seindah mentari terbenam, mempertanyakan rentanya isu hatimu...
tebas batas harapanmu menjadi jembatan ragu.pula, tanda tanya pasti dalam hatimu...
harapan adalah hal yang paling membahayakan, apabila ditebar atas nama perasaan..... \m/
