Malam
telah tiba, kesunyian menyelubungi hati Rena. Langit gelap tak berbintang
seolah membiarkan Rena terpuruk sendirian. Angin berhembus sesakkan dada, Rena
hanya duduk termenung memandangi angkasa luas. Ingin sekali ia merobek hati kecilnya
yang tersiksa karena perasaannya sendiri. Masih menangis, masih terbayang.
Terdengar sayu sebuah lagu yang mengiringi kesedihannya dari balik ruang hampa,
Judika - Aku Yang Tersakiti-. “Aku merintih di
kala orang-orang sengsara.. Aku menangis di kala orang-orang merindukan
kehidupan dan aku sumber dari segala sumber yang kau butuhkan.. Gegap gempita
nyanyian itu remuk redam jiwaku...“ hatinya seolah menjerit.
“Kenapa sih aku nggak bisa lupain sosok dirimu?
Kenapa bayangan tentangmu selalu menghantuiku? Kenapa kamu nggak bisa lenyap
dari dari pikiranku? Kamu hanyalah sebuah imaji semu untukku ! Aku ingin kamu pergi dari
kehidupanku, Rian ! Go..! Go away...! Arrgghh !!!
Hidup
mungkin kadang tak adil. Hidup memang menyusahkan. Tapi hidup adalah sebuah
pilihan. Sebuah pilihan yang indah jika hidup itu searah dengan tujuan kita.
***
Krriiingg...!!!
Bel istirahat berbunyi. Rena berjalan menelusuri koridor sekolah menuju
kantin, tempat favorit The Alive. Rena menganggap anak-anak The Alive seperti
kakaknya sendiri. Begitupun juga dengan The Alive, mereka menganggap Rena
seperti adik mereka sendiri.
Rena
berjalan sambil mendengarkan lagu dari MP3nya. Rian menghadang jalan Rena. Rena
berhenti melangkah dan hanya memandang wajah Rian kemudian berlalu.
“Ren,”
ujar Rian.
Rena
diam, ia seolah acuh mendengar panggilan Rian. Ia kembali meneruskan
langkahnya. Rian menarik tangan Rena, mencoba menghentikan langkahnya.
“Kenapa sih kamu, Ren? Kenapa kamu mencoba
menghindar dari ku? Kenapa kamu pura-pura nggak kenal sama aku? Mana Rena yang
aku kenal dulu?“
“Lepasain tanganku ! Sakit...!!“ keluh Rena
berontak.
“Nggak ! Nggak bakalan ku lepasin sebelum kamu
jawab pertanyaanku. Aku ingin tau alasan kamu, Ren. Kenapa kamu berubah?“
“Kamu mau tau alasanku? Okey ! Aku menghindar
dari kamu, pura-pura nggak kenal sama kamu karena aku nggak mau rasa itu tumbuh
lagi. Aku ingin melupakanmu dalam-dalam. Aku ingin mengukir lembar kehidupanku
yang baru, tanpamu. Puas!?“ bentak Rena sambil menghempaskan tangan Rian dengan
kasar.
Rian hanya terpaku setelah mendengar alasan dari
Rena.
“Ternyata dia....“ Rian tak sanggup berkata-kata
lagi.
Tanpa sepengetahuan mereka, Sheila memperhatian
Rena dan Rian dari kejauhan.
***
Hari ini The Alive akan manggung di Pensi SMK
Negeri 2 Kasihan. Mereka sudah bersiap untuk berangkat. Tak ketinggalan pula
Sita, Rena dan Luna.
Sesampainya di SMK Negeri 2 Kasihan, mereka
prepare alat untuk ngeband. The Alive sudah tak asing lagi di telinga SMA dan
SMK se Bantul. Udah personilnya cakep, keren lagi, nggak mungkin kan kalau
nggak ada yang kenal sama mereka? Sheila dan Rian juga hadir di Pensi,
tapi Rena tidak mengetahuinya.
“Berikutnya,
The Alive Band...!! Mana teriakannya?” ujar pembawa acara.
The
Alive memasuki panggung dengan suara teriakan memanggil nama para personilnya.
“Mana
teriakan buat The Alive Band?” ujar Roby dengan penuh semangat.
Sorak
sorai penonton mulai mewarnai jalannya Pensi.
“Wahh,
kayaknya udah pada nggak sabar nih. Okey, sebuah lagu kita persembahkan khusus
untuk kalian semua. Attack The Headline, Tommorow Is Not For Us.” Ujar
Roby.
“Tommorow
is a better day.. Even through you were not here.. Tommorow is not for you and
me, again…” Roby menyanyikan lagu andalan mereka, Tommorow Is Not For Us. Semua
terpukau melihat aksi The Alive.
Setelah
menyanyikan lagu Tommorow Is Not For Us, Roby memanggil Rena untuk naik
kepanggung.
“Beri applause yang meriah untuk Rena..” teriak
Roby. Riuh tepuk tangan mengiringi Rena ke atas panggung.
“Sebuah lagu ku persembahkan untuk kalian..” ujar Rena. Ia kemudian menyanyikan
lagu Yesterday and The Morning After dari Seems Like Yesterday.
“For
everything we had before.. We used to laugh and falling in love.. And that’s
when time stop ticking by.. Everytime I hold your hand…”
Seusai
Rena menyanyikan lagu tersebut, terdengar samar ada yang menyebut nama
Rena.Rian mulai menuju ke depan panggung dan kembali menyebut nama Rena.
“Ren,
maafin aku. Aku tau aku salah, aku khilaf dulu udah ninggalin kamu. Aku tau
kamu pasti kecewa berat sama aku. But, give me an opportunity again, please !
Aku akan perbaiki semuanya, aku janji aku takkan membuat kesalahan yang sama.
Aku tak akan meninggalkanmu lagi. Rena, please !! ujar Rian memohon.
“Beribu
maaf Rian, tapi aku nggak bisa. Semua cukup sampai di sini. Pergilah dari
kehidupanku, biarkan aku pada hatiku yang menangis. Lupakan aku ! Aku sayang
kamu, tapi sekarang udah beda. Maaf Rian, aku yakin kamu akan menemukan
seseorang yang lebih dari aku. Selamat tinggal…” Rena kemudian berlari menuruni
panggung dengan berkucur air mata.
Semua
tersentak mendengar ucapan Rena. Dan Rian, ia sangat terpukul dan tertegun
melihat Rena beranjak pergi dari sisinya.
“Jauh ku menatap.. Namun terlalu jauh..
Imajinasiku terberai.. Terdiam aku beku tanpamu... Selamat tinggal Rena, I will
always love you...“ ucap Rian lirih.
Kadang
kala kita tidak menghargai orang yang telah mencintai kita segenap hati,
sehingga kita kehilangannya. Tiada guna penyesalan karena perginya tanpa
berkata lagi. Mereka mungkin hanya datang dan pergi. Namun mereka sukar
terlupakan. Mereka sudah membekas di hati.
***
“Why won’t you give your heart for me.. Though you know I fell you.. And all
this memories you left.. Makes me drowned and so deep.. And story goes, so
there you go.. You make this thing so difficult.. And now I knew.. That’s your
heart still want me to be a part of you.. You start something so beautiful..
And you’re the one that’s break my my heart.. I know that’s your not the
only one.. But you’re the one that’s make me special.. But I’m Not Special……..”