click here for check us

Kamis, 29 Maret 2012

But I'm Not Special


Malam telah tiba, kesunyian menyelubungi hati Rena. Langit gelap tak berbintang seolah membiarkan Rena terpuruk sendirian. Angin berhembus sesakkan dada, Rena hanya duduk termenung memandangi angkasa luas. Ingin sekali ia merobek hati kecilnya yang tersiksa karena perasaannya sendiri. Masih menangis, masih terbayang. Terdengar sayu sebuah lagu yang mengiringi kesedihannya dari balik ruang hampa, Judika - Aku Yang Tersakiti-. “Aku merintih di kala orang-orang sengsara.. Aku menangis di kala orang-orang merindukan kehidupan dan aku sumber dari segala sumber yang kau butuhkan.. Gegap gempita nyanyian itu remuk redam jiwaku...“ hatinya seolah menjerit.
“Kenapa sih aku nggak bisa lupain sosok dirimu? Kenapa bayangan tentangmu selalu menghantuiku? Kenapa kamu nggak bisa lenyap dari dari pikiranku? Kamu hanyalah sebuah imaji semu untukku ! Aku ingin kamu pergi dari kehidupanku, Rian ! Go..! Go away...! Arrgghh !!!
Hidup mungkin kadang tak adil. Hidup memang menyusahkan. Tapi hidup adalah sebuah pilihan. Sebuah pilihan yang indah jika hidup itu searah dengan tujuan kita.
***
Krriiingg...!!!  Bel istirahat berbunyi. Rena berjalan menelusuri koridor sekolah menuju kantin, tempat favorit The Alive. Rena menganggap anak-anak The Alive seperti kakaknya sendiri. Begitupun juga dengan The Alive, mereka menganggap Rena seperti adik mereka sendiri.
Rena berjalan sambil mendengarkan lagu dari MP3nya. Rian menghadang jalan Rena. Rena berhenti melangkah dan hanya memandang wajah Rian kemudian berlalu.
“Ren,” ujar Rian.
Rena diam, ia seolah acuh mendengar panggilan Rian. Ia kembali meneruskan langkahnya. Rian menarik tangan Rena, mencoba menghentikan langkahnya.
“Kenapa sih kamu, Ren? Kenapa kamu mencoba menghindar dari ku? Kenapa kamu pura-pura nggak kenal sama aku? Mana Rena yang aku kenal dulu?“
“Lepasain tanganku ! Sakit...!!“ keluh Rena berontak.
“Nggak ! Nggak bakalan ku lepasin sebelum kamu jawab pertanyaanku. Aku ingin tau alasan kamu, Ren. Kenapa kamu berubah?“
“Kamu mau tau alasanku? Okey ! Aku menghindar dari kamu, pura-pura nggak kenal sama kamu karena aku nggak mau rasa itu tumbuh lagi. Aku ingin melupakanmu dalam-dalam. Aku ingin mengukir lembar kehidupanku yang baru, tanpamu. Puas!?“ bentak Rena sambil menghempaskan tangan Rian dengan kasar.
Rian hanya terpaku setelah mendengar alasan dari Rena.
“Ternyata dia....“ Rian tak sanggup berkata-kata lagi.
Tanpa sepengetahuan mereka, Sheila memperhatian Rena dan Rian dari kejauhan.
***
Hari ini The Alive akan manggung di Pensi SMK Negeri 2 Kasihan. Mereka sudah bersiap untuk berangkat. Tak ketinggalan pula Sita, Rena dan Luna.
Sesampainya di SMK Negeri 2 Kasihan, mereka prepare alat untuk ngeband. The Alive sudah tak asing lagi di telinga SMA dan SMK se Bantul. Udah personilnya cakep, keren lagi, nggak mungkin kan kalau nggak ada yang kenal sama mereka? Sheila dan Rian juga hadir di Pensi, tapi Rena tidak mengetahuinya.
“Berikutnya, The Alive Band...!! Mana teriakannya?” ujar pembawa acara.
The Alive memasuki panggung dengan suara teriakan memanggil nama para personilnya.
“Mana teriakan buat The Alive Band?” ujar Roby dengan penuh semangat.
Sorak sorai penonton mulai mewarnai jalannya Pensi.
“Wahh, kayaknya udah pada nggak sabar nih. Okey, sebuah lagu kita persembahkan khusus untuk  kalian semua. Attack The Headline, Tommorow Is Not For Us.” Ujar Roby.
“Tommorow is a better day.. Even through you were not here.. Tommorow is not for you and me, again…” Roby menyanyikan lagu andalan mereka, Tommorow Is Not For Us. Semua terpukau melihat aksi The Alive.
Setelah menyanyikan lagu Tommorow Is Not For Us, Roby memanggil Rena untuk naik kepanggung.
“Beri applause yang meriah untuk Rena..” teriak Roby.  Riuh tepuk tangan mengiringi Rena ke atas panggung.
“Sebuah lagu ku persembahkan untuk kalian..” ujar Rena. Ia kemudian menyanyikan lagu Yesterday and The Morning After dari Seems Like Yesterday.
“For everything we had before.. We used to laugh and falling in love.. And that’s when time stop  ticking by.. Everytime I hold your hand…”
Seusai Rena menyanyikan lagu tersebut, terdengar samar ada yang menyebut nama Rena.Rian mulai menuju ke depan panggung dan kembali menyebut nama Rena.
“Ren, maafin aku. Aku tau aku salah, aku khilaf dulu udah ninggalin kamu. Aku tau kamu pasti kecewa berat sama aku. But, give me an opportunity again, please ! Aku akan perbaiki semuanya, aku janji aku takkan membuat kesalahan yang sama. Aku tak akan meninggalkanmu lagi. Rena, please !! ujar Rian memohon.
“Beribu maaf Rian, tapi aku nggak bisa. Semua cukup sampai di sini. Pergilah dari kehidupanku, biarkan aku pada hatiku yang menangis. Lupakan aku ! Aku sayang kamu, tapi sekarang udah beda. Maaf Rian, aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang lebih dari aku. Selamat tinggal…” Rena kemudian berlari menuruni panggung dengan berkucur air mata.
Semua tersentak mendengar ucapan Rena. Dan Rian, ia sangat terpukul dan tertegun melihat Rena beranjak pergi dari sisinya.
“Jauh ku menatap.. Namun terlalu jauh.. Imajinasiku terberai.. Terdiam aku beku tanpamu... Selamat tinggal Rena, I will always love you...“ ucap Rian lirih.
Kadang kala kita tidak menghargai orang yang telah mencintai kita segenap hati, sehingga kita kehilangannya. Tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi. Mereka mungkin hanya datang dan pergi. Namun mereka sukar terlupakan. Mereka sudah membekas di hati.
***
                “Why won’t you give your heart for me.. Though you know I fell you.. And all this memories you left.. Makes me drowned and so deep.. And story goes, so there you go.. You make this thing so difficult.. And now I knew.. That’s your heart still want me to be a part of you.. You start something so beautiful.. And you’re the one that’s break my my heart.. I know that’s  your not the only one.. But you’re the one that’s make me special.. But I’m Not Special……..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar